Membandingkan Anak dengan Anak yang Lain

Sharing is caring!

Mengapa sebaiknya jangan suka membanding-bandingkan anak dengan anak yang lain?

Jangan sampai anak merasa kehilangan harga dirinya

Sebenarnya, setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Akan tetapi, tidak jarang kita menemukan orang tua membanding-bandingkan anaknya dengan anak yang lain.

Kebiasaan ini mungkin sebenarnya memiliki motif yang baik, yaitu agar anak lebih terpacu untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi, apabila orang tua menyampaikannya tidak dengan cara yang baik, berbagai dampak buruk dapat timbul.

Apabila orang tua terus-menerus membandingkan anak tanpa memberikan dukungan, dikhawatirkan rasa percaya diri pada anak akan runtuh. Selain itu, bisa juga timbul rasa cemburu pada diri anak terhadap anak yang dibandingkan dengannya (yang mana tidak baik bagi kesehatan jiwa anak). Hubungan orang tua dengan anak pun juga bisa menjadi tidak sehat karena anak merasa tidak diperhatikan, disayang, dan diterima oleh orang tua.

Maka dari itu, sebelum mengkritisi anak, orang tua hendaknya berusaha melihat atau menggali kelebihan pada diri anak. Belum tentu apa yang ada pada anak yang lain yang orang tua harapkan ada pada diri anak adalah yang terbaik untuknya. Bisa saja anak memiliki keunggulan terpendam yang unik yang apabila diasah dapat membuatnya begitu berprestasi.

Selain itu, apabila orang tua harus menjadikan anak lain sebagai contoh untuk memotivasi anak agar mau berprestasi, hendaknya orang tua melakukannya dengan cara yang baik. Psikolog Universitas Surabaya Nadia Sutanto SPsi MPsi, psikolog, lebih setuju jika dalam perbandingan orang tua lebih melihat proses dan hal positif dari sosok pembanding. Jangan hanya berkata “Tuh lihat, nilainya bagus dari nilaimu,” tetapi “Wah, dia dapat nilai bagus karena rajin belajar. Kamu juga bisa lho dapat nilai bagus kalau rajin seperti dia.”

Simpulan

Dengan demikian, hendaknya kita berhati-hati apabila kita suka membandingkan anak dengan anak-anak yang lain. Sekalipun niatnya memotivasi, kita tetap harus memerhatikan apakah kita menyampaikan maksud kita itu dengan cara yang baik atau apakah yang kita lakukan itu telah melukai perasaannya. Pada akhirnya, lebih baik bagi orang tua untuk mendukung dan membimbing anak untuk berkembang tanpa terlalu menekankan perbandingan antara dirinya dengan anak yang lain.

Referensi

  1. FIRDAUS, Yusra. Dampaknya Pada Anak Jika Anda Sering Banding-bandingkan Dengan Anak Lain [daring]. 2018 [dilihat 21 April 2021]. Tersedia dari: https://hellosehat.com/parenting/remaja/kesehatan-mental-remaja/membandingkan-anak-dengan-anak-lain/
  2. RASJID, Fadjar Efendy. Termasuk Bentuk Bullying, Ketika Anak-anak Dibandingkan Dengan Kawan Atau Saudaranya [daring]. 2015 [dilihat 21 April 2021]. Tersedia dari: http://www.ubaya.ac.id/2018/content/news_detail/1535/Termasuk-bentuk-Bullying–ketika-anak-anak-dibandingkan-dengan-kawan-atau-saudaranya.html
  3. REDAKSI HALODOC. Ini Alasan Orangtua Enggak Boleh Membandingkan Anak [daring]. 2018 [dilihat 21 April 2021]. Tersedia dari: https://www.halodoc.com/artikel/ini-alasan-orangtua-enggak-boleh-membandingkan-anak
Membandingkan Anak dengan Anak yang Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *