Menyesuaikan Penjuruan Anak dengan Gaya Belajarnya

Sharing is caring!

Dalam model VARK, ada 4 gaya belajar

Untuk memaksimalkan potensi seorang anak, kita perlu mengenali karakteristik-karakteristik anak tersebut. Karakteristik-karakteristik yang dimaksud dapat berupa topik-topik yang disukainya, keterampilan-keterampilannya, nilai-nilai akademisnya, kecenderungan gaya belajarnya, hasil tes IQ-nya, dsb. Pengetahuan mengenai hal-hal ini dapat membantu dengan dijadikan sebagai bahan dalam mengenali minat anak.

Salah satu karakteristik yang mungkin dapat dijadikan petunjuk adalah kecenderungan gaya belajarnya. Mengapa demikian? Karena setiap subjek pelajaran berdasarkan rasio memiliki kecocokannya masing-masing dengan tiap-tiap gaya belajar. Dr. Bill Cerbin mengungkapkan misalnya, dalam mengajarkan pembuatan pahatan, dirinya tidak yakin deskripsi verbal akan efektif, tetapi tentu saja pahatan-pahatan ini harus dilihat dan diraba (1). Di sini kita dapat memperkirakan apabila seorang anak cenderung visual dan kinestetik, mungkin saja anak ini memiliki kecocokan di bidang kerajinan.

Lantas, bagaimana penggolongan gaya belajar secara lengkap? Berdasarkan University of Kansas, model VARK (visual, auditory, reading/writing, kinesthetic) yang terdapat dalam studi oleh Neil D. Fleming dan Coleen E. Mills membagi gaya belajar menjadi 4, yaitu gaya belajar visual, auditori, baca/tulis, dan kinestetik (2). Seorang anak dengan gaya belajar visual lebih suka belajar dengan melihat gambar-gambar, diagram-diagram, dsb. Gaya belajar auditori disukai oleh anak-anak yang lebih mudah belajar dengan suara (mendengar/berucap). Mereka yang memiliki kecenderungan pada gaya belajar baca/tulis lebih mudah belajar dengan media tulisan seperti dengan membaca buku-buku atau menulis pada buku catatan. Anak-anak dengan gaya kinestetik lebih mudah belajar dengan bergerak atau lewat sentuhan.

Dengan mengetahui kecenderungan gaya belajar seorang anak, kita dapat lebih meningkatkan fokus pembelajaran anak pada hal-hal yang dinilai sesuai dengannya. Misalnya, apabila seorang anak cenderung visual, maka mungkin anak itu nantinya akan memiliki minat di bidang desain, keinsinyuran, atau arsitektur. Lain halnya apabila seorang anak cenderung auditori, maka mungkin anak itu nantinya akan lebih cocok untuk menjadi pembawa berita, negosiator, dsb. Anak yang menyukai belajar dengan baca/tulis mungkin nantinya bisa bergelut di bidang akademik, kesusastraan, atau jurnalistik dengan baik. Pekerjaan-pekerjaan seperti atlet, pembuat kerajinan, penjahit, teknisi, dan operator mesin mungkin akan lebih sesuai nantinya bagi anak yang memiliki kecenderungan kuat pada kinestetik.

Referensi

  1. CHICK, Nancy. Learning Styles [daring]. Tidak tersedia [dilihat 1 Februari 2020]. Tersedia dari: https://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/learning-styles-preferences/
  2. THE UNIVERSITY OF KANSAS SCHOOL OF EDUCATION. 4 Different Learning Styles You Should Know: The VARK Model [daring]. Tidak tersedia [dilihat 1 Februari 2020]. Tersedia dari: https://educationonline.ku.edu/community/4-different-learning-styles-to-know
Menyesuaikan Penjuruan Anak dengan Gaya Belajarnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *