Permasalahan Sensorik pada Autisme

Sharing is caring!

Permasalahan sensorik pada autisme dapat memiliki bentuk terlalu sensitif (hipersensitif) atau kurang sensitif (hiposensitif).

Anak-anak dengan autisme dapat memiliki permasalahan terkait sensitivitas sensorinya

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Akan tetapi, tidak hanya itu penyandang autisme juga terkadang memiliki permasalahan terkait sensitivitas sensori atau kepekaannya terhadap berbagai macam informasi yang diterima melalui indra-indranya seperti bau, pemandangan, tekstur, suara, dsb.

Sebenarnya, permasalahan terkait sensitivitas sensori tidak hanya dialami oleh penyandang autisme, orang-orang yang berkembang normal pun dapat memilikinya. Yang membedakan adalah biasanya mereka yang berkembang normal lebih mudah untuk outgrow atau terlepas dari permasalahan ini seiring bertambahnya usia. Di sisi lain, permasalahan sensitivitas sensori dapat bertahan lebih lama pada para penyandang autisme, tetapi seiring bertambahnya usia seringkali mereka belajar untuk mengatasinya.

Lantas, seperti apa permasalahan terkait sensitivitas sensori itu? Permasalahan terkait sensitivitas sensori ini memiliki dua bentuk:

  1. Hipersensitif (terlalu sensitif)
    Ketika seorang anak hipersensitif (terlalu sensitif) terhadap rangsangan tertentu, anak itu mungkin akan menghindari sumber rangsangan tersebut. Misalnya, seorang anak mungkin tidak pernah mau ikut pesta ulang tahun temannya karena dirinya terlalu peka terhadap kebisingan. Dari contoh ini kita dapat melihat permasalahan hipersensitif terhadap kebisingan ini dapat membatasi tempat-tempat yang dapat dikunjungi anak ini dan ini tentu dapat mengurangi pengalamannya. Sayangnya, apabila dipaksakan anak ini mungkin dapat mengalami meltdown (luapan emosi) karena merasakan rangsangan yang baginya berlebihan (overload).
  2. Hiposensitif (kurang sensitif)
    Ketika seorang anak hiposensitif (kurang sensitif) terhadap rangsangan tertentu, anak itu mungkin akan mencari sumber rangsangan tersebut. Misalnya, seorang anak yang kurang peka terhadap sentuhan mungkin akan sering menyentuh benda-benda di sekitarnya (untuk merasakan tekstur-tekstur yang berbeda).

Sebagian anak juga bisa hipersensitif terhadap rangsangan tertentu, tetapi hiposensitif terhadap rangsangan yang lain.

Stimming

Seorang anak dengan autisme untuk meregulasi dirinya, mungkin akan melakukan stimming, yaitu pergerakan tubuh atau penciptaan suara-suara yang biasanya tampak tidak wajar dan/atau berulang-ulang. Dalam kondisi mereka hipersensitif, anak melakukan stimming agar bisa lebih tenang. Dalam kondisi hiposensitif, anak melakukannya agar bisa lebih fokus terhadap lingkungan atau aktivitas yang sedang dilakukannya.

Pentingnya regulasi sensori

Regulasi sensori penting bagi para penyandang autisme agar mereka dapat menjalankan aktivitas dengan baik. Maka dari itu, hendaknya pengasuh memerhatikan pola-pola permasalahan sensori yang dialami anak. Perhatikan rangsangan-rangsangan seperti apa saja yang memicu reaksi-reaksi yang tidak baik dari anak. Setelah itu, buatlah perencanaan seperti memodifikasi ruangan-ruangan tempatnya beraktivitas atau membuat strategi-strategi untuk menanggulangi situasi-situasi tertentu.

Misalnya, seorang anak yang terlalu peka terhadap kebisingan dan kerumunan mungkin dapat memiliki masalah ketika berpindah kelas (karena harus melewati lorong-lorong gedung sekolah). Maka, anak itu mungkin bisa didukung untuk menggunakan tudung dan mendengarkan musik dengan headphones agar dirinya tidak merasakan masukan sensori yang berlebih bagi dirinya (kebisingan dan kerumunan di lorong-lorong gedung sekolah).

Penutup

Berdasarkan Nason, B (2014) dalam Autism Tasmania, pengalaman sensori pada seseorang dengan autisme dapat secara mendalam berpengaruh terhadap kehidupannya. “Para orang tua, pengasuh, dan guru-guru harus menyadari bahwa permasalahan sensori dapat menjadi salah satu tantangan terbesar yang dialami oleh orang-orang dalam spektrum (autisme).”

Demikian adalah bahasan singkat mengenai permasalahan sensori pada autisme. Mengingat kritisnya permasalahan ini bagi para penyandang autisme, mari kita tingkatkan kesadaran kita mengenai permasalahan para penyandang autisme agar kita tidak salah menilai mereka dan sebaliknya dapat membantu mereka.

Referensi

  1. WILLY, Tjin. Autisme [daring]. 2018 [dilihat 30 Desember 2020]. Tersedia dari: https://www.alodokter.com/autisme
  2. AUTISM TASMANIA. Sensory Differences [daring]. Tidak tersedia [dilihat 30 Desember 2020]. Tersedia dari: https://www.autismtas.org.au/about-autism/key-areas-of-difference/sensory-differences/
  3. RAISING CHILDREN NETWORK. Sensory sensitivities: autistic children and teenagers [daring]. 2020 [dilihat 30 Desember 2020]. Tersedia dari: https://raisingchildren.net.au/autism/behaviour/understanding-behaviour/sensory-sensitivities-asd
  4. RUDY, Lisa Jo. Autism and Sensory Overload [daring]. 2019 [dilihat 30 Desember 2020]. Tersedia dari: https://www.verywellhealth.com/autism-and-sensory-overload-259892
Permasalahan Sensorik pada Autisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *