Autisme pada Perempuan

Autisme adalah sebuah gangguan perkembangan yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi verbal dan non-verbal, serta perilaku seseorang. Kondisi ini dapat dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan—baik terdiagnosa ketika masih anak-anak maupun setelah dewasa.

Walaupun begitu, secara resmi autisme lebih umum terjadi pada laki-laki. Rasio autisme pada anak laki-laki dibandingkan dengan pada anak perempuan adalah antara 3:1 sampai 4:1. Akan tetapi, terdapat perdebatan bahwa rasio ini mungkin tidak akurat.

Sebagian menganggap bahwa hal ini disebabkan oleh bias dalam pengujian dan berbedanya gejala-gejala yang ditampilkan oleh anak-anak perempuan. Berdasarkan SPARK for Autism, hampir semua yang kita tahu tentang autisme berasal dari studi terhadap anak-anak laki-laki.

Selain gejala-gejala yang mungkin tampak berbeda, anak-anak perempuan dengan autisme juga cenderung lebih mampu untuk menutupi tantangan sosial yang dihadapinya di sekolah. Sebagian mempelajari cara untuk menutup-nutupi ciri-ciri autismenya pada usia yang masih dini.

Ciri-ciri autisme pada anak perempuan

Berdasarkan NHS, anak-anak perempuan dengan autisme mungkin:

  • menutup-nutupi sebagian tanda-tanda autisme dengan meniru bagaimana anak-anak yang lain berperilaku dan bermain,
  • menarik diri dari situasi-situasi yang mereka anggap sulit,
  • tampak lebih bisa menangani lebih baik dalam situasi-situasi sosial, dan
  • menunjukkan tanda-tanda perilaku repetitif yang lebih sedikit.

Berdasarkan Verywell Health, berikut adalah di antara ciri-ciri autisme pada anak perempuan:

  • kesulitan untuk menjalin dan menjaga pertemanan,
  • tampak “pendiam” atau “pemalu” di sekolah atau situasi-situasi sosial lainnya,
  • sangat pasif,
  • komunikasi sosial bertambah sulit seiring dirinya memasuki usia remaja,
  • memiliki perilaku yang berbeda antara di rumah dan di sekolah—sebagian anak menghabiskan energinya untuk menyesuaikan diri di sekolah dan melepas emosinya ketika di rumah atau sebaliknya baik-baik saja ketika mengikuti rutinitas di rumah, tetapi kesulitan ketika di sekolah,
  • mengandalkan anak-anak yang lain untuk memandu dan berbicara untuknya ketika di sekolah,
  • melakukan percakapan yang terbatas pada topik yang dia minati,
  • sensitif terhadap rangsangan-rangsangan sensorik seperti suara yang keras, bau yang kuat, dan cahaya yang terang,
  • mudah frustrasi,
  • memiliki gejala-gejala kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, dan
  • menderita serangan epilepsi.

Anita Lesko—seorang seorang perawat anestesi yang mendapatkan diagnosa autisme pada usia 50 tahun—dalam Autism Speaks mengatakan, “Sebagian laki-laki dengan autisme juga menutup-nutupi, tetapi tidak mendekati jumlah atau sampai pada derajat yang mana perempuan lakukan. Dengan menutup-nutupi autisme mereka, ini dapat membantu perempuan mendapatkan teman-teman, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Akan tetapi, dengan bayaran apa?”

Meskipun pada anak-anak perempuan dengan autisme terutama yang tidak memiliki disabilitas intelektual, gejala-gejala tampak lebih tidak parah dan mereka lebih bisa menutup-nutupinya, sebenarnya ini bukanlah hal yang sepenuhnya baik. Ini dapat menyebabkan mereka mendapatkan diagnosa yang lebih telat atau bahkan tidak sama sekali.

Penyamaran gejala yang dilakukan oleh penyandang memerlukan upaya yang terus-menerus dan sangat menyulitkan. Ini dapat menyebabkan stres dan kecemasan.

Berdasarkan SPARK for Autism, terutama pada usia remaja, depresi dan kecemasan tampak lebih umum pada anak-anak perempuan dengan autisme daripada anak-anak laki-laki dengan autisme maupun anak-anak perempuan yang berkembang normal.

Maka dari itu, penelitian lebih lanjut terkait autisme pada perempuan adalah hal penting. Ini karena mungkin saja ada banyak penyandang perempuan yang sebenarnya memerlukan penanganan, tetapi tidak mendapatkannya karena masih kurangnya pengetahuan perihal autisme pada peremuan.

Baca juga: Lima Mitos Seputar Autisme.

Referensi

  1. CDC, “Living with Autism Spectrum Disorder: Anita’s Story.” CDC, 7 April 2022, https://www.cdc.gov/ncbddd/autism/features/living-with-autism-spectrum-disorder-anita.html.
  2. Ferrrante, Dana. “Why Do So Many Autistic Girls Go Undiagnosed?” Boston University, 12 April 2022, https://www.bu.edu/articles/2022/why-many-autistic-girls-go-undiagnosed/.
  3. Lesko, Anita. “Women on the Autism Spectrum & Stress.” Autism Speaks, tidak tersedia, https://www.autismspeaks.org/blog/women-autism-spectrum-stress.
  4. NHS. “Signs of autism in children.” NHS, 11 November 2022, https://www.nhs.uk/conditions/autism/signs/children/.
  5. Rudy, Lisa Jo. “Autism in Girls: Signs, Symptoms and Underdiagnosis.” Verywell Health, 13 Juli 2023, https://www.verywellhealth.com/signs-of-autism-in-girls-260304.
  6. Sarris, Marina. “Are Girls With Autism Hiding in Plain Sight?” SPARK for Autism, 14 Februari 2023, https://sparkforautism.org/discover_article/are-girls-with-autism-hiding-in-plain-sight/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *