Temperamen pada Anak, yuk, Kita Kenali!

Sharing is caring!

Apa yang dimaksud dengan temperamen pada anak?

Anak yang ceria

Temperamen pada anak adalah mengenai bagaimana anak melakukan pendekatan dan memberikan respon terhadap dunia. Temperamen ini memengaruhi perilaku anak dan bagaimana dirinya berinteraksi dengan yang lain.

Anak-anak lahir dengan temperamennya masing-masing dan kita mungkin bisa mendeskripsikan temperamen anak sejak bayi. Misalnya, “Dio anak yang anteng,” atau “Mira menyukai rutinitas.”

Temperamen mendapatkan secara terbatas pengaruh dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi anak dengan orang lain dan lingkungan dan kesehatannya (terutama pada usia dini). Akan tetapi, temperamen bukanlah sesuatu yang bisa berubah banyak di masa depan.

Karakteristik temperamen pada anak

Berdasarkan Great Schools yang didasarkan pada Temperament and Development oleh A. Thomas and S. Chess (1977), temperamen pada anak bisa dilihat dari 9 karakteristik, yaitu:

  1. Tingkat aktivitas
    Anak-anak dengan tingkat aktivitas yang lebih tinggi mungkin kesulitan ketika harus duduk selama berjam-jam di sekolah, tetapi energi lebih yang mereka miliki dapat menjadi manfaat jika diarahkan ke hal-hal yang positif. Anak-anak dengan tingkat aktivitas rendah bisa beradaptasi dengan baik dengan hari sekolah yang terstruktur, tetapi mungkin tampak seperti kurang motivasi.
  2. Sensitivitas (kepekaan)
    Anak-anak yang sangat sensitif mungkin mudah terganggu oleh lingkungannya (spt. oleh kebisingan, bangku yang terlalu keras, kaos yang terasa gatal, dsb.), tetapi anak yang sensitif seringkali memiliki kesadaraan terhadap pikiran dan perasaan yang lain. Anak-anak yang kurang sensitif lebih toleran terhadap sensasi lingkungan, tetapi mungkin lambat dalam merespon sinyal peringatan (spt. bel sekolah dan detektor asap).
  3. Keteraturan
    Anak-anak yang memiliki keteraturan yang tinggi menyukai kegiatan terstruktur di kelas, tetapi mungkin memiliki permasalahan ketika ada perubahan rutinitas seperti ketika berpariwisata. Anak-anak yang kurang teratur mungkin kesulitan mengikuti rutinitas sekolah, tetapi lebih toleran ketika hal-hal tidak terjadi sebagaimana biasanya.
  4. Keterbukaan
    Keterbukaan adalah reaksi awal anak ketika menghadapi situasi baru. Ada anak yang terbuka ketika menghadapi pengalaman baru, tetapi anak seperti ini mungkin bereaksi terlalu cepat atau secara impulsif. Di sisi lain, anak yang lebih hati-hati tidak berani langsung mencoba sesuatu yang baru, mereka cenderung lebih aman, tetapi mungkin akan tertinggal dalam hal pengalaman-pengalaman baru.
  5. Kemampuan beradaptasi
    Kemampuan beradaptasi menunjukkan seberapa lama anak dalam menerima perubahan-perubahan dalam rencana atau rutinitas. Di sekolah, anak-anak yang adaptif lebih sedikit memiliki kesulitan, tetapi bisa jadi membuat mereka mengadopsi nilai-nilai atau perilaku yang kurang baik dari teman-teman sebayanya. Di sisi lain, anak-anak yang lebih kaku lebih sulit untuk mendapatkan pengaruh buruk, tetapi situasi-situasi baru dapat membuatnya kesulitan (padahal, terjadinya perubahan itu sering di sekolah).
  6. Suasana hati
    Anak-anak (terkait suasanya hatinya) ada yang cenderung positif dan ada juga yang cenderung negatif. Anak-anak yang cenderung negatif mungkin akan lebih sulit untuk diterima oleh keluarga, guru-guru, dan teman-temannya dan mungkin akan membuat para pengasuh kesulitan membedakan ketika sebenarnya ada masalah dengan suasana hati tipikal anak (yang cenderung negatif). Di sisi lain, anak-anak yang tampak selalu dalam suasana hati yang baik mudah diterima yang lain, tetapi mungkin tidak menghadapi semua pengalaman hidupnya secara jujur.
  7. Intensitas
    Sebagian anak merespon sesuatu dengan intensitas yang cenderung kuat dan sebagian yang lain dengan intensitas yang cenderung lemah. Anak-anak yang sangat intens menggunakan sepenuh perasaannya dalam bereaksi dan ini mungkin bisa membuat orang tua kelelahan. Di sisi lain, anak yang tidak intens reaksinya mungkin lebih mudah dihadapi, tetapi orang-orang harus lebih peka terhadap tanda-tanda permasalahan yang mungkin tidak tampak jelas.
  8. Kegigihan
    Anak-anak yang gigih besar kemungkinannya untuk memiliki kesuksesan akademik. Akan tetapi, mereka mungkin seorang perfeksionis (spt. ragu untuk mengumpulkan tugas karena dirasa belum cukup baik baginya). Anak-anak dengan kegigihan yang rendah dapat memiliki permasalahan-permasalahan di sekolah karena mereka cenderung tidak suka jika terganggu atau ketika tugasnya menjadi sulit.
  9. Kemudahan untuk terdistraksi
    Anak-anak yang mudah terdistraksi tidak bisa berkonsentrasi ketika ada sedikit saja interupsi. Anak-anak yang bisa fokus bisa tetap konsentrasi sekalipun ada interupsi.

Tipe-tipe temperamen

Dari 9 karakteristik tersebut, anak bisa dibagi ke dalam 3 tipe temperamen, yaitu:

  1. Mudah atau fleksibel
    Anak-anak cenderung ceria, teratur dalam kebiasaan tidur dan makannya, bisa beradaptasi, tenang, dan tidak lekas marah.
  2. Aktif atau rewel
    Anak-anak mungkin rewel, tidak teratur dalam hal kebiasaan makan dan tidur, takut terhadap orang-orang atau situasi-situasi baru, mudah marah oleh kebisingan dan stimulasi, dan intens dalam bereaksi.
  3. Pemalu atau hati-hati
    Anak-anak mungkin kurang aktif atau cenderung rewel dan mungkin pergi meninggalkan atau bereaksi negatif ketika menemui situasi-situasi baru. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu mereka mungkin menjadi lebih positif.

Tidak semua temperamen anak bisa dimasukkan dengan tepat ke dalam salah satu dari 3 tipe di atas. Sekitar 65% dari anak-anak, bisa dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga tipe temperamen, yaitu: 40% mudah atau fleksibel, 10% aktif atau rewel, dan 15% pemalu atau hati-hati. Akan tetapi, berdasarkan Akademi Pediatri Amerika, bagi para orang tua, karakteristik temperamen yang 9 lebih bermanfaat daripada 3 tipe temperamen karena lebih memberikan gambaran yang lengkap tentang seorang anak.

Apa signifikansi dari pengetahuan orang tua terhadap temperamen pada anak? Temperamen anak-anak tidak bisa diubah. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk mengadaptasikan gaya parenting dengan temperamen anak.

Misalnya, ketika kita sebagai orang tua memiliki kebiasaan apa-apanya serba teratur, sedangkan ternyata anak kita merupakan tipe yang sekalipun kreatif cenderung tidak teratur, bukankah itu dapat menimbulkan masalah jika kita tidak menyesuaikan gaya parenting kita? Dengan memiliki pemahaman tentang temperamen anak, orang tua bisa memahami ketika anak menghadapi situasi-situasi yang sulit akibat temperamennya dan membantu anak menangani situasi-situasi yang sulit ini.

Referensi

  1. ALLARD, Lindsey T. dan HUNTER, Amy. Understanding Temperament in Infants and Toddlers [daring]. Tidak tersedia [dilihat 8 Oktober 2021]. Tersedia dari: http://csefel.vanderbilt.edu/resources/wwb/wwb23.html
  2. AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS. How to Understand Your Child’s Temperament [daring]. 2019 [dilihat 8 Oktober 2021]. Tersedia dari: https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/Pages/How-to-Understand-Your-Childs-Temperament.aspx
  3. GREATSCHOOLS. Your child’s temperament: 9 basic traits to consider [daring]. 2009 [dilihat 8 Oktober 2021]. Tersedia dari: https://www.greatschools.org/gk/articles/temperament-traits/
  4. RAISING CHILDREN NETWORK. Temperament: what it is and why it matters [daring]. 2020 [dilihat 8 Oktober 2021]. Tersedai dari: https://raisingchildren.net.au/newborns/behaviour/understanding-behaviour/temperament
Temperamen pada Anak, yuk, Kita Kenali!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *