Metode Time-Out untuk Mendisiplinkan Anak

Sharing is caring!

Time-out adalah sebuah metode untuk mendisiplinkan anak yang bisa dilakukan tanpa orang tua harus marah-marah.

Time-out adalah memindahkan anak dari lingkungan di mana anak melakukan perilaku yang tidak baik. Time-out ini membosankan dan dapat digunakan untuk mengubah perilaku anak yang tidak baik.

Biasanya, ada satu lokasi khusus di rumah yang dipilih sebagai lokasi time-out. Ketika time-out, orang tua jangan mengajak anak berbicara atau memberikan perhatian kepadanya (tentu kecuali jika anak melakukan hal-hal yang membahayakan). Ajak juga anggota keluarga yang lain untuk memahami bahwa anak sedang tidak boleh diganggu (dengan diajak bicara atau diberikan perhatian).

Time-out jangan dilakukan terlalu lama. Time-out bisa dilakukan selaras dengan usia anak. Time-out 3 menit untuk anak usia 3 tahun, time-out 5 menit untuk anak usia 5 tahun, dan seterusnya.

Dengan penerapan time-out ketika anak melakukan perilaku yang tidak baik, anak menjadi tahu bahwa perilaku yang dilakukannya itu salah. Maka dari itu, sebaiknya time-out diterapkan segera setelah perilaku buruk anak terjadi. Selain itu, jangan lupa untuk konsisten menerapkannya ketika anak menampilkan perilaku yang tidak baik karena jika tidak, mungkin anak akan menganggap time-out ini bukanlah hal yang serius.

Berdasarkan CDC (Centers for Disease Control and Prevetion), berikut adalah langkah-langkah yang bisa orang tua lakukan dalam penerapan time-out:

1. Cek perilaku dan berikan peringatan

Beri peringatan kepada anak ketika anak melakukan perbuatan yang tidak baik (misalnya, ketika tidak mengikuti arahan orang tua). Ketika anak tidak merapikan mainannya padahal sudah kita perintahkan, kita bisa mengatakan seperti, “Jika kamu tidak merapikan mainanmu, Ibu akan berikan kamu time-out.” Tunggu 5 detik. Jika anak menuruti perintah, katakan misalnya, “Ibu senang ketika kamu mendengarkan dan merapikan mainanmu seperti yang Ibu minta.” Jika anak tetap tidak melakukannya, lakukanlah time-out dan perlu diingat penerapan time-out ini harus dilakukan secara konsisten ketika anak menampilkan perilaku yang tidak baik.

2. Beri tahu anak mengapa

Beri tahu anak mengapa kita memberikan time-out kepadanya, “Ibu memberikan time-out karena kamu….” Ini cukup dikatakan sekali dan pastikan hal-hal ini ketika anak akan time-out:

  • jangan memarahi anak,
  • jangan menerima alasan anak,
  • jangan berbicara kepada anak ketika memindahkan anak ke tempat time-out, dan
  • abaikan teriakan, protes, dan janji-janji untuk menjadi lebih baik dari anak.

3. Pastikan anak benar-benar menjalankan time-out

  • Jangan izinkan siapapun berbicara dengan anak.
  • Jangan izinkan anak bermain dengan apapun.

Pastikan anak benar-benar duduk di area time-out. Apabila anak pergi dari tempat seharusnya dia duduk, pindahkan lagi anak ke tempat time-out tanpa berbicara kepadanya.

4. Mengakhiri time-out

Seharusnya anak tenang sebelum dirinya meninggalkan tempat time-out-nya. Dengarkanlah selama 5 detik apakah anak diam sebelum mengakhiri time-out. Jika anak terdengar diam selama 5 detik itu, beri tahu anak bahwa dirinya sudah bisa pergi. Kita bisa ingatkan anak setelahnya mengenai perilakunya, misalnya, “Ingat, ya. Jangan memukul-mukul lagi.” Jika anak menolak untuk mengikuti arahan kita setelah time-out, kita bisa melakukan time-out lagi.

5. Puji perilaku baik anak selanjutnya

Fokuslah pada dan pujilah satu perilaku baik anak setelah time-out ini. Terkadang, kita bisa mencoba memberikan lagi anak kesempatan untuk mengikuti arahan kita agar kita bisa memuji perilakunya. Jika tidak dilakukan, time-out lagi. Mungkin akan memerlukan beberapa kali percobaan hingga anak mengerti apa maksud yang kita ucapkan kepadanya.

Sekali lagi, perlu bagi orang tua untuk memberitahukan anak alasan yang jelas mengapa anak harus time-out. Hindari memberikan alasan yang abstrak terutama bagi anak yang lebih kecil. “Adik harus diam di kursi itu karena adik tadi memukul Kakak,” daripada “Adik tadi bersikap kasar kepada kakak.”

Terapkan juga aturan yang jelas ketika time-out. Anak tidak boleh diajak bicara oleh siapapun. Laranglah anak untuk melakukan tidakan destruktif seperti menggebrak meja atau pintu yang jika anak melakukannya, orang tua bisa memperpanjang waktu time-out.

Jangan lupa menjelaskan kepada anak mengenai time-out atau tunjukkan kepadanya dengan cara yang dapat dimengerti olehnya. Dengen memberikan penjelasan apa yang harus anak lakukan ketika time-out dapat menjadikan time-out lancar dan lebih efektif.

Referensi

  1. CDC. Steps for Using Time-Out [daring]. 2019 [dilihat 6 September 2021]. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/parents/essentials/timeout/steps.html
  2. CDC. What is Time-Out? [daring]. 2019 [dilihat 6 September 2021]. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/parents/essentials/timeout/whatistimeout.html
  3. PUTRI, Resthie Rachmanta. Time-Out, Metode Mendisiplinkan Anak yang Patut Dicoba [daring]. 2020 [dilihat 6 September 2021]. Tersedia dari: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3615621/time-out-metode-mendisiplinkan-anak-yang-patut-dicoba
Metode Time-Out untuk Mendisiplinkan Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *